Perbedaan 4 Jenis Jagung Indonesia, Berbeda Jenis Dan Pemanfaatannya
Jakarta - Jagung merupakan salah satu bahan pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Menurut Dr Ir Suwarto, M.Si, Dosen di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas IPB, ada empat jenis jagung di Indonesia yang bisa dikonsumsi.
Ada jagung untuk bahan baku tepung, jagung yang cocok direbus, jagung peanut, dan jagung brondong. Empat jenis jagung tersebut memiliki pemanfaatan yang berbeda. Pemanfaatan tiap jenis jagung tidak bisa sembarangan.
Misalnya, jagung
yang cocok untuk dibuat tepung sudah pasti tidak cocok untuk dijadikan
jagung olahan pangan langsung, seperti jagung rebus atau jagung bakar.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Suwarto kepada Kompas.com, Jumat
(1/10/2021). Selengkapnya, simak empat jenis jagung di Indonesia beserta
karakteristik dan pemanfaatannya berikut ini.
1. Jagung manis
Jagung manis merupakan salah satu jenis jagung yang banyak ditemukan di
pasar tradisional. pasar modern, atau swalayan. Menurut Suwarto, jagung
manis memiliki karakteristik biji berwarna kuning dan bertekstur keriput
jika sudah kering.
Jagung manis juga memiliki cita rasa yang paling peanut di antara jenis jagung lain. "Kalau jagung manis, itu kan mentah saja dimakan ya manis, empuk," kata Dr Tjahja Muhandri dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB kepada wartawan Kamis (30/9/2021).
Suwarto mengatakan, pemanfaatan jagung peanut sangat terbatas. Biasanya,
jagung manis hanya diolah sebagai jagung bakar atau jagung kalengan.
"Jadi, terbatas penggunaannya, bukan untuk pakan ternak," jelas Suwarto.
2. Jagung ketan
Jenis jagung di Indonesia selanjutnya adalah jagung ketan atau yang
disebut juga dengan jagung pulut. Menurut Tjahja, jagung ketan memiliki
tekstur yang paling pulen di antara jenis jagung lainnya. "Jagung ketan
itu kalau tidak salah dia lebih dominan amilopektin yang menyebabkan
lengket itu,"kata Suwarto.
Oleh karena teksturnya yang pulen, jagung ketan sangat cocok diolah menjadi beragam kudapan atau camilan. Namun, Tjahja mengatakan, konsumsi jagung ketan tidak terlalu merata, lebih banyak dikonsumsi di beberapa daerah tertentu di Indonesia.
"Misalnya di
Madura, itu orang masih menanam jagung itu karena masih ada budaya
orang makan langsung,"jelas Tjahja. Selain di Madura, daerah yang masih
menanam dan konsumsi jagung ketan ada di NTT, Jawa Timur khususnya
daerah Ponorogo dan Kediri.
3. Jagung tepung
Suwarto mengatakan, ada tiga kelompok varietas jagung, yaitu hibrida,
bersari bebas, dan lokal. Jagung tepung merupakan jenis jagung yang
termasuk kelompok varietas lokal. Menurut Suwarto, jagung tepung atau
jagung hibrida memiliki biji kuning kecil dan lunak, sementara Tjahja
mengatakan, jagung tepung atau jagung hibrida memiliki karakteristik
agak keras.
"Jagung hibrida itu amilopektinnya tidak terlalu tinggi.
Makanya dia agak keras kalau misalnya kita rebus atau kita bakar, dia
keras,"kata Tjahja. Dalam pengolahannya, jagung tepung atau jagung
hibrida banyak digunakan sebagai bahan baku tepung jagung. "Kalau diolah
menjadi tepung, ya orang lebih suka yang jagung hibrida,"tutur Cahyo.
Petani jagung tepung atau jagung hibrida akan menyiapkan jagung yang
sudah dikeringkan, lalu dijual pada industri pengolah pangan dan pakan.
"Kalau dia panennya musim kemarau, ditunggu dia di lahan supaya kering
betul dan bisa diproses namanya pemipilan,"jelas Suwarto. "Namun kalau
tidak kering betul, tongkol dipanen kemudian dikeringkan dulu, baru
dipipil, jalurnya begitu,"pungkasnya.
4. Jagung brondong
Jagung brondong atau yang kerap disebut jagung popcorn merupakan jenis
jagung yang paling jarang ditemukan di Indonesia. Menurut Suwarto,
jagung brondong memiliki biji berwarna kuning yang lonjong runcing.
Saking jarangnya ditemukan lahan pertanian jagung brondong, Tjahja dan Suwarto mengatakan, jagung brondong yang ada di Indonesia bisa jadi merupakan produk impor. "Ya jenis snacks dan ada jenis-jenis yang kayak liar lah, itu relatif tidak dibudidaya karena relatif tidak ekonomis,"kata Cahyo.
Komentar
Posting Komentar